Peka Terhadap Sekitar
Masih terus meratapi kekurangan diri ? Coba pahami tulisan ini

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan yang retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun hal ini terjadi setiap hari, Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak bangga akan prestasinya karena sudah melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan yang retak itu merasa malu akan ketidaksempurnaannya dan merasa sangat sedih karena ia hanya bisa memberikan setengah porsi yang seharusnya dapat ia berikan. Setelah dua tahun tertekan akan kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata pada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri dan saya ingin mohon maaf kepadamu.” “Kenapa?” Tanya si tukang air. “Selama dua tahun ini saya hanya mampu membawa setengah porsi air yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan yang telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” Kata tempayan itu. Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak dan dalam belas kasihannya ia berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan kita besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya bocor, dan kembali si tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata pada tempayan retak, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu sedangkan tak ada bunga di sisi tempayan yang tidak retak. Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sisimu, dan setiap hari ketika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita takkan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Allah akan menggunakan kekurangan kita untuk menghiasNya. Di mata Allah yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Ketahuilah, didalam kelemahan kita, kita dapat menemukan kekuatan kita.

Seharusnya Mahasiswa Indonesia Seperti Ini

Hari ini, saya hadiahkan apresiasi tertinggi kepada seorang mahasiswi. Ia tampil sangat elegan menghadapi lima dosen penguji. Ia pertahankan karya ilimiahnya dengan penuh spirit, tiada ‘ketakutan’ yang tergambar di wajahnya. Iapun tak segan-segan minta pertanyaan diulangi kepada seorang professor. “Maaf Prof. Apa pertanyaannya boleh diulangi?”

Tiada perlulah saya ceritakan bagaimana debat ilmiah itu dimulai. Saya terkesima saat sang professor berucap tegas: “Mestinya Anda merujuk ke teori yang ada”. Dengan sigap sang kandidat menjawab: “Saya jenuh dengan teori orang lain Prof. Saya justru ingin membuat teori”. Kian terkesima saya mendengar langsung sanggahan mahasiswiku ini.

Saya amati, mahasiswi ini sangat ekspresif. Ia bangga ungkapkan apa yang dia inginkan. Calon sarjana ini sungguh memukau di mata saya. Pertama kalinya, saya sebagai penguji kagum dengan anak ini. Saya perhatikan, tak ada ucapan berlebihan dan subyektif akan jawaban-jawaban mahasiswi ini.

Hari ini cita-cita saya tergapai, lama sudah saya rindukan sebuah ujian skripsi berlangsung debat ilmiah. Bukan sebuah formalitas yang membuat suasana ujian jauh dari atmosfir akademik. Skripsi adalah buatan murni seorang mahasiswa akhir. Saya sangat percaya, mahasiswi ini membuat skripsi dengan penuh naluri keilmuwan, roh skeptisnya terhadap sebuah perkembangan keilmuan benar-benar tampak dari hasil karya dalam penguasaannya. Potret ini sangat berbeda ekstrim jika seorang mahasiswa akhir yang skripsinya ‘dibuatkan’ orang lain. Wajahnya penuh ketegangan, ketakutan, dan terhantui rasa non akademis dan rasa bersalah.

Hari ini, durasi ujian berlangsung alot dan menyita waktu dua jam. Bukan basa-basi, perdebatan benar-benar sarat keilmiahan. Bahkan ada penguji yang dibuatnya ‘grogi’, karena pemandangan ilmiah ini pertama terjadi di kampus ini. Apalagi setingkat ujian skripsi, yang identik dengan manut-manutnya seorang kandidat. Angguk-angguk kepala bukan sepenuhnya menunjukkan sebuah kesopanan tetapi tak lebih dari sebuah rasa takut ketidaklulusan alias UJIAN ULANG.

Saya sering terheran-heran, seorang kandidat di ujian thesis malah tak sanggup mempertahankan karya ilmiahnya, padahal yang lebih menguasai thesis buatannya itu adalah dirinya sendiri. Bukan dosen penguji.

Ketakutan apakah yang sebetulnya di diri setiap kandidat?. Sungguh saya sayangkan sebab ajang ujian skripsi, thesis, bahkan disertasi kadang menjadi momok non teknis, terjatuh bukan lantaran nuansa akademik tapi karena faktor lain yang di luar marka-marka akademik.

Di akhir ujian skripsi sang mahasiswi ini, kami berlima sebagai penguji melakukan rapat penentuan kelulusan/ketidaklulusan. Dimintalah sang mahasiswi ini berdiri di depan meja ujian. Sang profesor menyampaikan rekapitulasi hasil ujian, penuh ketegasan profesor ini membacanya: “Saudari kandidat. Setelah memperhatikan proses ujian, nilai dari setiap penguji serta sikap Saudari selama ujian berlangsung. Maka dengan ini, Saudari dinyatakan tidak lulus”.

Pembacaan hasil keputusan ini tak membuat sang kandidat goyah, sedih, apalagi menangis. Ia malah berucap: “Terima kasih Prof. Saya tidak terima ketidaklulusan ini. Saya mohon tunjukkan dimana kesalahan jawaban saya sehingga nilai saya rendah. Jika terbukti secara ilmiah, jawaban saya salah. Saya terima hasil keputusan ketidaklulusan saya”.

Sang profesor diam sejenak, beliau lalu berkata: “Andai semua mahasiswaku seperti Anda, sayalah orang yang paling bangga di dunia ini. Anda benar-benar memperjuangkan hak-hak akademik Anda. Budaya debat ilmiah dari Anda membuat saya kagum. Kami nyatakan Anda LULUS dengan Cum Laude

Kemandirian manusia, sesunguhnya ditentukan saat bergulat dengan Karya Ilmiahnya

Kakek Cirebon yang keras kepala

Cast : Mas A, Aku, Uwa Y, Uwa E, Kakek Cirebon, Sopir kakek, extras

Saat itu, aku dan mas A berniat menjemput Uwa Y dan Uwa E di bandung untuk mengantar orang tua pergi haji. dengan menggunakan sedan kesayangan. mas A datang hari rabu, bermalam disana dan besok baru berangkat. tepat pukul 13.00 kami bertiga keluar dari rumah, melewati jalur cipularang menuju bekasi. situasi lalu lintas cukup ramai lancar, namun sesampai di KM 41 mulai tersendat. tau sendiri, gaya mengemudi Mas A yang zig zag dan suka berpacu dengan kendaraan lain membuat kami sedikit ngeri. tapi, jarak tempuh menjadi lebih singkat karenanya. 

mobil berjalan perlahan, terkadang stop and go. ketika ada momen jarak panjang, mas A melajukan dengan cepat. sempat selap-selip juga. Alhamdulillah kami semua aman. (menghela napas). 

kejadian tak terduga mulai…..

Kami  : (ngiiing, hooo, ngiiing, hooo) situasi tersendat.

Kami  : (ngiing, ngeeeng, hooo, ckiiit, jdug) bunyi rem ditekan. 

Aku    : “untung, pas ngeremnya”

Mas A : (diam, sambil konsentrasi ke jalan)

Sopir kakek : (brrrmm, ngroooong, BRAKK!!) suara keras menabrak mobil kami

Kami   : (tersentak kaget) “ada apa ya ? situasi masih tersendat

Aku     : (mengecek keadaan mobil) “wah! apa-apaan neh, bagasi ringsek sama bempernya”.

Mas A  : “kenapa ? (turun dari mobil) “hmmm, kurang ajar tuh” ayo masuk lagi.

Uwa Y  : “oh, itu tuh yang nabrak” 

Mas A  : (langsung tancap gas mengejar si penabrak) 

untungnya, lalu lintas masih belum lancar. sehingga cepat di hadang. 

Sopir Kakek : (brrrm, ngrooong) “ketakutan”

Kakek Cirebon : “coba kita menepi dulu”

Sopir kakek  : (langsung menepi) 

Kami      : (menghadang mobil si kakek)

Mas A    : (cklek, prang) membanting pintu

Kakek Cirebon dan sopir kakek : (turun dari mobil)

Mas A    : “maaf pak, nih gimana urusannya ?? (nada geram)

Kakek Cirebon : “heh, kamu)! (sambil manggil sopirnya) Sambil ngobrol berdua

Sopir kakek : “maaf pak, tadi saya udah ngerem. tapi mobil ga mau berhenti”

Kakek Cirebon : “maaf mas, tadi kan macet. sopir saya udah ngerem, tapi mobil ga mau berhenti”

Mas  A  : “jelas tadi, saya denger suara keras dari belakang. saya udah ngerem keras tadi!!”

Kakek Cirebon : “ah, nggak. tadi emang ngerem kok, iya kan” ? (sambil nunjuk sopirnya)

Sopir kakek : ketakutan, “iiya pak” 

Aku dan uwa y  : (melihat ada adu mulut) “apa sih ?” (cklek, cep)

Mas A : “bohong !!, jelas saya dengar tabrakan keras” (naik pitam)

Kakek Cirebon : “ayo, sini kita liat bekas rem nya!”

Mas A  : “Ayo” 

berjalan bertiga ke TKP

Kakek Cirebon dan sopirnya : “hah! mana ? kamu tadi beneran ngerem ?”

Sopir kakek : “iiya, pak tapi kok ga ada ya ?” (bingung dan panik)

Mas A   : “tuh, mana ? bekas saya ada disini !!” (terlihat jelas bekas tapak ban)

Kakek Cirebon : “gini aja, kita ke bengkel terdekat. lalu selesaikan disana”

Mas A   : “oke”

Kakek Cirebon : “maafkan sopir saya, tadi nggak sengaja nabrak”

Mas A   : “heh, pak. segitu, ancurnya mobil saya. masih bilang ga sengaja”! (geram)

Kakek Cirebon : “ya udah, kalau gitu mas mau gimana?”

Mas A   : “ya, ganti dong kerusakan mobil saya!”

Kakek Cirebon : “oke2, saya hanya ada uang di dompet 100 ribu”

Mas A   : “wah, masa iya. keluar kota cuma bawa segitu?”

Kakek Cirebon : “lah, situ trus maunya apa! ?”

Mas A   : “ganti kerusakan mobil saya lah, lha bapak yang salah !!

Kakek Cirebon : “iya… tapi saya buru-buru mau ke jakarta”

Mas A   : “ooh, sama. saya mau lanjut ke bekasi”!!

Kakek Cirebon : “blablablablabla”!

Mas A   : “blablablabla”!!!

situasi semakin memanas, aku dan uwa y yang sedari tadi hanya memerhatikan. ikut menengahi 

Aku dan uwa y  : “udah2, (sambil memisahkan mas a dan kakek cirebon)

Kakek Cirebon : “ini mas, bu. blblablablablabla!”

Aku dan uwa y     : “iya!, saya denger pembicaraan bapak. jelas bapak yang salah, lalu mau apa lagi?”

  (sementara itu)

Mas A dan uwa y   : “minta ke bengkel terdekat ?”

Aku      : “ada di cikarang, itu plang nya”

Mas A (sambil menelpon orang tua) “pak, kita ditabrak!”

Orang tua : “ooh, ya udah coba cari bengkel. ada si penabraknya kan ?

Mas A   : “ada”

Orang tua : “sip, nanti kalau udah sampai di bengkel telp lagi”

aku mengobrol sambil negosiasi dengan kakek itu. uwa y, mengobrol dengan mas a

Aku      : “saya tau daerah sini” 

Mas A dan Uwa Y   : “oke, gimana supaya bapak itu ikut kita?” sambil diskusi

Aku     : “aku di mobil bapak itu, dan mas ikuti dari belakang!!” (perasaan tegang)

Mas dan Uwa y : “oke, kamu ikut sana ya?”

(sambil masuk ke dalam mobil masing2)

mulai jalan, sedan kesayangan kodisinya : bemper melorot, kap bagasi penyok dan kena ban belakang, kap bagasi penyok berat hingga tak bisa ditutup, lampu pecah sebelah kiri.

setelah keluar lemahabang,

 alih-alih mas a ikuti mobil kakek itu, malah mendahului. 

sementara, aku di dalam mobil kakek itu. 

Aku      : (tegang) dagdigdagdig (jantung semakin berdegup kuat)

Kakek Cirebon : “itu kamu, stroke?” (melihat keadaan fisik sebelahku yang kurang sempurna)

Aku      : “nggak, ini bawaan dari kecil”

Kakek Cirebon : “ooh, ngomong-ngomong. mobil situ di asuransi?”

Aku      : “nggak, lagian ini mobil satu-satunya pak” (sombong)

Kakek Cirebon : (terhenyak, membayangkan berapa ganti rugi yang mesti dibayar)

didalam mobil minibus tersebut berisi : kakek cirebon, sopirnya dan keponakannya.

Extras  : (berbicara dengan seseorang melalui handphone) “blablablabla”

Kakek Cirebon : “gini, saya minta maaf karena ga sengaja menabrak mobil situ” (jawabnya pelan)

Aku        : “oh iya, makasih !”

Extras 1   : “Om, itu tadi kenapa”?

Kakek Cirebon : “ini, kita nabrak mobil mas ini, kita udah ngaku salah. tapi malah minta ganti”

Extras   : “ooh, ga bisa gitu!, kita kan dah mengakui. mestinya selesai dong, gak pake ada ganti rugi segala. tau kita mau buru-buru ke jakarta”

Aku       : (tetap tenang sambil mendengarkan mereka berdua)

Kakek Cirebon : “nih, mana bengkelnya gak keliatan?”

Aku       : (terima telepon dari uwa y) “dimana bengkelnya?” (uwa E ikut menyahut)

Aku       : ” dimana ya ? ga ada tanda-tanda”. (mulai gugup)

Uwa y dan E : “dimana ni, kita ga ngerti daerah sini”

Aku       : “nih, pak ngomong sama uwa saya aja!” (melempar tanggung jawab)

Kakek Cirebon : “bu, kita mau dibawa kemana”?

Uwa Y dan Uwa E : “pokoknya ke bengkel, tapi kita ga ngerti daerah sini”

Kakek Cirebon  : “oke, saya mau ke jakarta nih, jadi mohon ini cepat selesai !” (telepon langsung ditutup)

Aku        : “gimana?”

Kakek Cirebon : “mobil sana itu cepet banget, susah ngejarnya. padahal kan suruh ikutin di belakang”

Aku        : (diam dengan tatapan tajam)

Kakek Cirebon : “jadi maunya apa ?!”

Aku        : “ya ke bengkel lah!, bapak nabrak mobil saya. tapi mau lari dari tanggung jawab”

Sopir Kakek : “nih kemana lagi?!”

Aku        : (bingung lalu menelpon mas a) “dimana ?” 

Mas A     : “di jalan ahmad yani, depan dealer motor, kita tunggu sini ya?!”

Kakek Cirebon : “heh, jawab!!”

Aku        : (mengarahkan sopir kakek) “terus aja ikutin jalan ya”

Sopir kakek : “nih kita mau dibawa kemana sih, mana arahnya ?”

Kakek Cirebon dan extras : “iya, kemana ?,kalau gak jawab. ni mobil ke kantor polisi nih!!

Aku         : (diam dan tambah tegang) ” lurus aja, ikutin jalan ya !!”

Kakek Cirebon : “kalau gak tau daerah sini, jangan sok !! saya ini pernah 3 tahun disini” (bangga)

Aku         : “tuh, keliatan 

mobil lalu parkir di lahan kosong depan dealer motor. di belakang sedan.

Mas A     : “kemana lagi jalannya”? (sambil menghampiri)

Aku         : “gni aja, terus ikut jalan”

Mas A     : “sampai Auto2000 bekasi aja?”

Aku         : “iya, karena gak ada plang dan penampakannya”

Mas A     :  ”bilaang, dong. jadi ga was-was” (cape deh)

tiba-tiba mas a menghampiri kakek itu

Mas A     : “kita terus jalan sampai bekasi”

Kakek Cirebon : “hah!! kalau gitu lewat tol udah sampai tuh” (gerutu)

Mas A     : “kenapa?, jangan lari !!”

Kakek Cirebon : “waktu saya udah terbuang percuma gara-gara ini !!”

Mas A     : “sama !!, bapak mesti ganti dulu rusaknya mobil saya !!! enak aja bilang percuma” (mulai ribut namun ditenangkan oleh Uwa Y)

Kakek Cirebon : “iya, tapi gimana nih?” (sombong)

Mas A     : “ya ikuti mobil saya, dengan arahan adik saya di mobil bapak”!!

Kakek Cirebon : (berubah tegang) “oke, tapi pelan-pelan ya”

(mulai masuk mobil masing-masing dan yang benar saja. mas a mengemudi dengan pelan perlahan tapi cepat juga, aku membawa kakek itu berputar-putar hingga beliau kesal)

Sopir kakek : “mana nih mobil nya ?”

Kakek Cirebon : “iya, mana mobilnya?”

Aku          : “terus jalan ya !!”

Kakek Cirebon : “kemana ??, kalau ga jelas juga. belokin ke kantor polisi nih!”

Sopir Kakek : “iya, saya belokin nih!!” (mengancam)

Aku          :”bapak mau selamat ga ? boleeh, berhenti di kantor polisi. silakan tuduh apapun, tapi…… saya punya bukti kuat ! (tegas dan kalem)

Kakek Cirebon dan Sopirnya : “oke2, kita akan ikutin kemauan situ” (berubah takut dan gugup)

Aku           : “ikuti jalan terus” !!

(sementara Mas A)

Mas A : “pak, nanti sebentar lagi sampai ke Auto2000”

Orang tua : “oke, nanti bapak kesana”

(jalan sudah memasukki kota bekasi, tepatnya di daerah tambun)

Mas A   : “nah, ini sampai juga” (masuk Auto2000 bekasi)

(parkir, dan mulai ajukan booking service)

(sementara Uwa y dan Uwa E mengambil dan menata barang bawaan)

(Aku,kakek cirebon, sopirnya dan extras sekitar 10 menit sampai di bengkel)

Aku       : (keluar menghampiri uwa E dan uwa Y untuk bantu2)

Mas A   : (menelpon orang tua) “udah sampai mana ?”

Orang tua : “ini udah deket”

(15 menit kemudian muncul mobil SUV bermerk Chevrolet)

Orang tua : (turun dan melihat keadaan, kemudian ke dalam menghampiri mas a yang sedang booking)

Mas A        : “pak, kesini”

Extras 2    : “ini kena tabrak ya pak, bisa kok diproses. tapi 3 minggu.

Orang tua : “oke, bisa”

Extras 2    : “ngomong-ngomong, kan tadi anak bapak bilang ditabrak sama mobil panther. sampe rusak belakangnya, kenapa ga minta dia yang bayar semua ini” ??

orang tua  : “ah, nggak lah. kan ini di cover asuransi, saya hanya ingin tanggung jawabnya dia”

Extras 2     : “ooh, gitu ya pak. hebat! baru kali ini ketemu orang seperti bapak”

orang tua   : “ah, ga begitu lah. percuma, kalau kita gituin mereka. ntar malah ketuker dosanya” 

Extras 2     : “hahaha, bisa aja bapak”

(selesai booking, langsung mas a dan orang tua menuju TKP)

Orang tua  : (melihat keadaan mobil sedan dengan mobil panther si kakek)

Kakek Cirebon : “ini pak, gimana?” (nada dan tingkah sombong)

Orang tua  : “udah, sekarang situ punya duit berapa ?”

Kakek Cirebon : “100 ribu, ini dompet saya”

Orang tua  : “ah, masa orang dari cirebon. cuma bawa segitu?”

Kakek Cirebon : “ini, cuma ada segitu !!”

Orang tua   : “oke, tenang. bapak menabrak mobil saya, sampai ringsek belakang. sedang mobil bapak, hanya penyok sedikit tanduk depannya”

Kakek Cirebon : “jadi, mau berapa ?? 200 ribu. (sambil mengeluarkan tasnya)

Orang tua    : “hmm, tambah lagi dong”

Kakek Cirebon : “kok gitu sih, ini mah pemerasan!!”

Orang tua    : “pemerasan ?? oh ya”

(sementara aku, mas a, uwa Y, uwa E memindahkan barang ke mobil SUV)

Kakek Cirebon : (sambil mengaduk tas dan dompetnya) “ini, 600 ribu !!, puas, saya udah minta maaf tapi malah suruh ganti gede”

Orang Tua    : “ooh iya ? itulah hasil perbuatan bapak”

(sambil menerima uang ganti rugi dari kakek itu lalu mengacuhkan dan menuju ke kami)

Kakek Cirebon : (menggerutu dan masuk mobil sambil banting pintu) “brrrm, ngroooooong”

[Flash 9 is required to listen to audio.]
3 plays

spirit of my life

Kisah 2 gadis berbeda negara

Suatu  hari, ada 2 gadis belia sedang mengobrol tentang kebiasaan di negaranya masing-masing. (gadis indonesia dan gadis jepang)

Gadis Indonesia : “hmm, di negaraku. waktu pagi, orang-orang masih asyik bersua di kasur” maklum, masih dingin. 

Gadis Jepang     : “ih, beda ya.(tercengang). di negaraku, waktu pagi. orang-orang langsung beranjak dari kasur n siap2 memulai beraktivitas”  kita mesti berlomba dengan waktu, jika tidak. bisa merugikan orang lain

Gadis Indonesia  : “ooh, kalau disini. orang-orang mulai beraktivitas, ketika mentari mulai meninggi. soal waktu, kita ga terlalu peduli” (bangga)

Gadis Jepang      : “ooh, gitu ya, kalau gitu namanya pemalasan dong. orang-orang di negaramu?”

Gadis Indonesia  : “jangan salah, pemalasan disini ada gunanya loh “

Gadis Jepang      : ” waah, coba kamu utarakan?”

Gadis Indonesia  : “oke, pertama  : malas melatih kita, supaya jadi egois, kedua : malas melatih kita, untuk bebas dari beban pikiran, ketiga : malas melatih kita, untuk cantik sepanjang hari. begitu”

Gadis Jepang  : “baru denger, malas bisa untuk kecantikan” (matabelo)

Gadis Indonesia  : “itulah, hebatnya negara kami” meskipun orang-orang malas, toh masih bisa hidup. 

Gadis Jepang  : “kalau orang-orang di negaraku, kalau malas, bisa gagal semuanya” karena dalam tradisi, kami tidak mengenal itu” 

Gadis Indonesia : “makanya, tinggal di negaraku aja” 

Gadis  Jepang  : “eiit’s ! ntar dulu, tau gak fakta-fakta di negaramu, yang bikin aku miris?”

Gadis Indonesia : “miris?” apa sih yang bikin kamu miris?” (mendelik bin sombong)

Gadis Jepang   : ” nih, indonesia adalah negara terGALAU di dunia. dari mulai orang-orang bawah, sampai pemerintahannya” gimana ga GALAU : mau, bikin asuransi kesehatan rakyat. aturannya belum jadi-jadi. bikin Komisi HAM, Komisi anak, Komisi tangkal korupsi. tidak jelas apa yang ditanganinya,pernikahan dan kelahiran tinggi, masyarakatnya di jalan saling sikut, saling memperlihatkan ego, remajanya. sukanya lagu mellow, sedih yang lama-lama bikin GALAU. pendidikan yang rumit dan membingungkan.  obrolannya, ga bisa lepas dari cinta-cintaan, jomblo itu tabu bagi mereka. aktivis muslimnya, lebih milih ngurus umat di palestina, menghujat artis luar negeri atau umatnya sendiri yang beda prinsip. dibanding ngurus umat di sekitar nya, 1 komplek ada 3 masjid. kalau adzan itu seperti lomba lari. padahal belum tentu disukai hal itu. 

Gadis Indonesia  : “hah” (kaget)! sebegitu parahkah ? lalu bagaimana kondisi negaramu, yang katanya : sering gempa, kasus bunuh diri di kalangan pejabat tinggi, tingkat pernikahan dan kelahiran rendah. ?”

Gadis Jepang  : “itu karena, orang-orang di negara kami. begitu rajin, menghargai waktu, pendidikan sesuai dengan kebutuhan negara. remajanya aktif, sehingga banyak karya-karya baru.soal bunuh diri, itu salah satu tradisi lama yang berarti menebus kesalahan. pernikahan dan kelahiran rendah karena, pria dan wanita sama bergerak, aktif. jadi, ketika keduanya mapan, mereka tidak mau menikah”

Gadis Indonesia : “waaaaah, hebat!” aku juga mau belajar dari kebiasaan negaramu. terus terang, banyak hikmah didapat dari ceritamu.

Gadis Jepang   : “aku juga demikian” yuk, kita perbaiki dan bangun negara masing-masing ke arah lebih baik.

Gadis Indonesia : “yuk. (berjabat tangan)

Gadis Jepang : ARIGATOU GOZAIMASTA !!

Gadis Indonesia : TERIMAKASIH BANYAK. !!

Wong Fei Hung(Pahlawan Negeri Tiongkok) adalah Muslim Sejati,tapi Pemerintah Komunis menutup2inya.

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.


Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.
Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin. 

Polos bin bodoh

Ini, adalah kisah pilu. namun patut jadi pelajaran untuk pembaca sekalian. silakan disimak !

Cast : I, Bapak Polisi

waktu itu, tepat 2 bulan aturan baru lalu lintas diberlakukan. khusus pengendara motor, bekennya di sebut bikers. wajib menyalakan lampu besar pada siang hari. ketika itu, I hendak bergerak menuju kampus tercinta( masa sih ?) melewati rute : Tegallega-Karapitan- Sunda-Dago-Tamansari-Setiabudhi. 

I melewati jalan karapitan, FYI : biasanya, di depan universitas langlangbuana. suka ada lapak aparat terhormat(sumpeh lo!).

I : brmmm,ngiiiing,brmmm, ngiiing (pelan-pelan masuk ke jalan karapitan) “yes! euweuh manehna, hahay lanjutt gas pol. 

(padahal udah lengkap tp lampu blom nyala ya, ma’lum masih kuper)

I  : brmmmm,brmmmmm, ngeeeeeeng (I melanjutkan perjalanannya menuju kampus dengan santai, tapi tetep fokus koq)

tibalah saatnya memasukki daerah tamansari. 

I  :( brmmm, ngiing,brmmm, ngiing). “beeuh!, aya naon yeuh maracet kieu?. hmmm, pasti yeuh kerjaan si eta(Aparat terhormat). ah, tenang weh, da urang kumplit ieu!”

terjemahannya (“waaaah!, ada apa nih macet-macet gini?. hmmmm, pasti ini ulah si itu(Aparat Terhormat). ah, tenang aja, lha saya peralatannya komplit ini!”)

Bapak Polisi : (menghalau saya sedari 100 meter) 

I : “oke, oke kalem nya pak?” 

terjemahannya (“oke, oke tenang ya pak ?”)

Bapak Polisi : “selamat pagi mas?” (gayanya khas)

I : “Oh iya, ada apa ya ?” (pura-pura gak tau, tp PEDE ABIS MUKANYA)

Bapak Polisi : “bisa tunjukkan surat-suratnya?”  (kebetulan ditangani sama yg paruh baya gitu)

I  : “oh, ini SIM Dan STNK nya”

Bapak polisi : “hmm, kamu kerja apa kuliah ?” 

I  : “Kuliah pak”, (sambil tak sabar kepingin jalan)

(melirik bapak polisi dan mengamati gerak-geriknya)

I : “gimana pak ? udah beres kan. (tangan bergerak mengambil SIM dan STNK, namun ditarik lagi sama dia)

Bapak Polisi : “kamu tau kesalahannya apa ?” 

I : “Nggak!” emang kenapa gitu ? (penasaran)

Bapak Polisi : “kamu gak nyalain lampu besar”

I : “Oooh, gitu ya ?” terus kenapa. (bertanya dengan polosnya)

Bapak polisi : “kamu saya tilang!”

I       : “loh! gitu yah ?, buktinya apa (blo’on.com tp berani nantang)

Bapak Polisi : ” ini bisa kamu liat” (sambil keluarin buku tilang dan daftar paket KFC, up’s bukan! buku tilang dan daftar tilang maksudnya)

Bapak Polisi : “ini, KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA WAJIB MENYALAKAN LAMPU UTAMA PADA SIANG HARI. PELANGGARAN DI KENAKAN DENDA Rp 100.000,-” (sambil dibacain pula, hahay!)

I : “oh gitu ya ? berarti saya mesti bayar segitu dong”. (blo’on banget!)

Bapak Polisi : “oh, ga usah. cukup setengah nya aja. (dikira nasi padang, bisa setengah!)

I  : “bener nih pak ?” jadi ga usah sesuai yang di aturan. 

Bapak polisi : “yaaa, terserah. mau sesuai itu boleeh, mau setengah juga ga apa-apa” (makin buncit ntar kalo gitu)

I  : “hmmm, (sambil ngodok dompet dan asyiknya lagi subur) 

Bapak Polisi : “ini hanya membantu koq” (matamu!)

I : “ya udah, ini. tapi bener yah, abis ini beres?” (malah nanya lagi!)

Bapak Polisi : “iya” (sok kalem)

I  : “kalo gitu makasih banyak ya pak” (pake cium tangan lagi!)

Bapak polisi : “ya, hati-hati bawa motornya”

I mulai nyalakan motor dan perlahan pergi, perasaannya begitu lega dan berpikir bapak polisi itu baik banget. (hah!, baik banget ?)

Itulah kisahnya. mohon komang-komengnya yaa ! ^^

Senjata Makan Tuan

Tell me wait!, i like monday, Tell me wait!, i like monday. begitulah kira-kira lagu orang yang senang di awal pekan. terlebih dengan I, hari ini sangaaat istimewa (tapi ada juga kecewanya). mengapa itu bisa terjadi ? simak kisah berikut.

seperti biasa, kuliah pagi merupakan rutinitas wajib yang mesti dilaksanakan. nyalakan motor (brrrrmm,brmmmm!) berangkat dari tegallega menuju ledeng. (ngeeeeng, ngeeeeng. ckiiiiit!) sampailah I di kampus untuk perkuliahan. kebetulan saat itu jam kuliah stngh 8. 

setelah selesai kuliah, kembali nyalakan motor. (brmmmm, brmmmm! ngeeeng,ngeeeng) keluarlah perlahan dari kampus. mulai berjalan, kebetulan ini baru gajian (hehe). maka motor parkir dulu di borma. 

Cast : Mbak kasir, I, Polisi 1, Polisi 2

I  : (brmmm, brmmm ces!) motor dimatikan. bergegas ke dalam supermarket. 

I  : (mengambil beberapa cemilan, mie instan, jas hujan dan obat nyamuk yg semprot 10 detik langsung mati) 

I  : “Ini mbak, (menyerahkan barang belanjaan) 

Mbak kasir : Semuanya 88.450. 

I  : (sambil ngodok saku) ambil 100 ribu. “ini mbak”

Mbak kasir : “uangnya 100 ribu ya pak?! (walah, ganteng n imut gini dibilang “bapak”!)

I  : (sambil nunggu, di plastikin. cuci mata dulu, barangkali ada yang seger-seger) :D

I : selesai, belanjaku ^^. (sambil naruh kantong plastik di gantungan), nyalain motor (ckkk,brmmmm!) 

    lanjutkan perjalanan ! tapi agak repot, karena bawa banyak cemilan :D. (maklum, I senang berbagi)

tak lama masuk setiabudhi bawah, ada segerombolan berbaju coklat sedang gelar lapak. (emangnya mau jualan apa pak ! ?) eiit’s maksudnya sedang gelar razia. 

I : (dalam jarak 100 meter, sudah dihalau.) kenapa ya ? ooooh, I lupa nyalain lampu besar. 

I : (Dag dig, dag dig, dag dig, tau aja neh pak, aku lagi makmur!) 

I : Aha! “aku ada akal, pura-pura aja jalan oleng” (dengan sigap, setang ku mainkan )

Polisi 1 : “heheeeeeh, kenapa tuh!. 

I : (Sempat berhenti) 

Polisi 1 : “udah dah, jalan aja!” 

I : “oh, gitu ya pak?” (langsung ngeloyor, dan yes! aku kibulin lo!) 

 sesampainya di prapatan ciumbuleuit-siliwangi, lampu merah(sambil nunggu, nyalain deh lampu besar). begitu jalan menurun. ada gerombolan persis seperti di atas. 

I : (Dengan tenang, aku lewat aja. kan udah sama yang diatas)

Ngeeeeng,ngeeeeng,ngeeeeng, ckiiiit!

I : “loh, ada apa pak” ?

Polisi 2 : (dengan gaya khas) “selamat siang mas ?” 

I : “bentar-bentar” (blom aja turun udah ngajak ngobrol)

menepi dan mematikan motor.

Polisi 2 : “bisa tunjukkan surat-suratnya ?”

I : “ini STNK nya dan ini SIM nya”

Polisi 2 : “hmmm, sedang mau kemana ?”

I : “Maen pak, ke salman itb” (padahal langsung pulang)

Polisi 2 : “oh, itu belanjaan banyak bener” (mulai deh)

I : “oh ini, pesenan uwa saya pak”

Polisi 2 : “hmm, boleh gak ?”

I : “wah, pak. ntar kalo dibagi disini, uwa saya bisa marah” (sambil memelas)

Polisi 2 : “oh, e ya udah. ati-ati di jalan ya!

I : (hmmph!, udah bener caranya. tapi tetep aja dimintain !!) langsung, nyalain motor dan ngeloyor pergi.

Mari Berpantun

Pagi-pagi saatnya gerak badan 

baiknya senam atau lari pagi 

selagi muda ayo tambah wawasan 

agar tak sempit di kemudian hari 

Kemarin ada aksi koboi direkam 

masuk ke youtube komennya nyinyir 

hai manusia jangan lah berlidah tajam 

nanti engkau dapat bencana besar 

Apa perbandingannnya koran dan internet 

ane bilang sama-sama buat baca 

senin pagi sambutlah dengan semangat 

menjadikan sehat jiwa dan raga 

Hizbut Tahrir berdakwah di facebook 

sayang sekali isinya campur aduk 

dengar yahudi ia langsung menghentak 

bikin mata yang baca terbelalak 

apakah artinya tua-tua keladi 

jelasnya makin tua makin jadi 

dakwah islam sukanya berapi-api 

sekali salah ucap gak lantas perbaiki

senjata api lawan senjata softgun 

sama-sama kuat dan bikin terpacu 

hidup di jakarta emang keras bin tertekan 

tapi kita tetep mawas dan punya malu 

Garis tipis dengan garis tebal 

persamaannya lurus 

hai pemuda hendaknya bermuka tebal 

jika mau public speakingnya lulus

Garis tipis dengan garis tebal 

persamaannya lurus 

hai pemuda hendaknya bermuka tebal 

jika mau kuliahnya lulus 

apa reaksi anda ??

apa reaksi anda ??